Koloni Yunani Kuno Chersonesus
Chersonesus, yang kemudian dikenal sebagai Cherson, adalah seorang Yunani kuno koloni didirikan sekitar 2,500 tahun yang lalu di barat daya Crimea. Pemukim dari Heraclea Pontica, yang terletak di Bitinia, mendirikan koloni tersebut pada abad ke-6 SM. Saat ini, situs tersebut merupakan bagian dari Cagar Alam Nasional Tauric Chersonesos, dekat Sevastopol modern.
Dapatkan dosis Riwayat Anda melalui Email
Asal Usul dan Pemerintahan Awal
Nama Chersonesos berarti “semenanjung” dalam bahasa Inggris Yunani, yang mencerminkan lokasi geografis koloni tersebut. Sepanjang periode klasik, Chersonesus berfungsi sebagai negara demokrasi. Sekelompok archon terpilih dan dewan yang dikenal sebagai Demiurgoi memerintah kota tersebut. Seiring berjalannya waktu, pemerintahan menjadi lebih oligarki, dengan kekuasaan terpusat di tangan para archon. Sumpah yang diucapkan oleh semua warga negara sejak abad ke-3 SM masih bertahan hingga saat ini.

Signifikansi Sejarah dan Perubahan Tata Kelola
Pada tahun-tahun awalnya, Chersonesus tetap menjadi kota kecil hingga berkembang pada abad ke-4 SM. Kota ini menggabungkan koloni Kerkinitida dan membangun banyak benteng. Chersonesus membela diri melawan Kerajaan Bosporan, orang Skithia, dan Tauri. Akhirnya, mereka mencari bantuan dari Mithradates VI dan jenderalnya Diophantus sekitar tahun 110 SM, dan menyerah kepada Kerajaan Bosporan.
Bawah Roma memerintah, Chersonesus menerima garnisun dari abad ke-1 SM hingga tahun 370-an M, ketika bangsa Hun merebutnya. Itu Kekaisaran Bizantium mengambil alih kendali pada Abad Pertengahan Awal, menggunakan kota itu untuk memantau suku-suku barbar dan sebagai tempat pengasingan bagi mereka yang membuat marah pemerintah. Pengasingan terkemuka termasuk Paus Klemens I, Paus Martin I, dan Paus yang digulingkan Bizantium Kaisar Justinian II.

Periode Khazar dan Bizantium
Pada akhir abad ke-7, seorang gubernur Khazar memerintah Chersonesus. Antara tahun 705 dan 840, pejabat terpilih yang dikenal sebagai babaghuq menangani urusan kota. Kaisar Theophilus mengirim Petronas Kamateros pada tahun 833 untuk mengambil alih kendali, menetapkan tema Klimata/Cherson. Kota ini tetap berada di bawah kendali Bizantium hingga tahun 980-an ketika Vladimir Agung dari Rus Kiev dilaporkan merebutnya. Vladimir setuju untuk mengevakuasi Chersonesus hanya jika ia dapat menikahi saudara perempuan Basil II, Anna Porphyrogeneta. Pembaptisan Vladimir pada tahun 988 di Chersonesus membuka jalan bagi Pembaptisan Rus Kiev.
Penurunan dan Penemuan Kembali
Chersonesus jatuh di bawah kendali Genoa pada awal abad ke-13 dan dijarah oleh Monggol pasukan Golden Horde milik Nogai Khan pada tahun 1299. Sumber-sumber Bizantium terakhir kali menyebutkan kota tersebut pada tahun 1396. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa situs tersebut ditinggalkan segera setelahnya.
Pemerintah Rusia mulai menggali reruntuhan tersebut pada tahun 1827. Kini, sisa-sisa peninggalan kuno Chersonesus menjadi objek wisata populer yang dilindungi sebagai taman arkeologi. Reruntuhan tersebut memadukan pengaruh Yunani, Romawi, dan Bizantium. Tembok pertahanannya menutupi area seluas sekitar 30 hektar, dan bangunan-bangunan terkenal termasuk Amfiteater Romawi dan seorang Yunani candi.

Upaya Arkeologi Modern
Institut Arkeologi Klasik Universitas Texas di Austin telah menyelidiki Chersonesus sejak tahun 1992. Pada tahun 2013, UNESCO tercantum “Itu Kota Tua Tauric Chersonese dan Chora-nya” sebagai Situs Warisan Dunia. Sebutan ini menyoroti gaya hidup budaya dan penggunaan lahan populasi kuno di wilayah tersebut.
Masalah Kontemporer
Chersonesus menghadapi ancaman dari perambahan bangunan modern dan pendanaan yang tidak mencukupi untuk pengelolaan lokasi. Pada tahun 2010, Global Heritage Fund mengidentifikasinya sebagai salah satu dari 12 situs di seluruh dunia yang “Di Ambang” kehilangan yang tidak dapat diperbaiki. Kontroversi juga muncul, seperti pemecatan direktur Cagar Nasional, Andrey Kulagin, pada tahun 2015 oleh gubernur Sevastopol Sergey Menyaylo. Langkah politik ini memicu protes, yang akhirnya berujung pada pengunduran diri pengganti yang ditunjuk.
Chersonesus tetap menjadi penghubung penting untuk memahami sejarah dan interaksi kompleks peradaban kuno. Upaya arkeologi dan inisiatif pelestarian yang berkelanjutan memastikan bahwa warisan kota kuno ini bertahan hingga generasi mendatang.
sumber:
